Konsep manusia sempurna Mulla sadra dan fridriech william Nietzche
DOI:
https://doi.org/10.28944/el-waroqoh.v7i2.1587Keywords:
Manusia Sempurna, Mulla Sadra, NietzscheAbstract
ABSTRAK
Gagasan manusia sempurna sudah menjadi sebuah perdebatan di awal perkembangan zaman dalam hal ini ketika dalam sebuah zaman yang penuh dengan tatanan dan bentuk perbedaan pemikiran islampun mulai memasuki ranah dan sejak saat itulah, orang orang di dalam nya terbelah menjadi beberapa bagian, dimulai dari pemahaman manusia sempurna sebagai sosok mandiri tanpa ada orang lain yang membantu, selanjutnya manusia sempurna sebagai sosok yang mempunyai kedudukan di atas ketika mampu mencapai proses pembersihan yang berkaitan dengan pemahan yang di gaungkan oleh pemikiran kaum sufisme. Dan pada zamanya ibnu arabi sebagai juru kunci. dan selanjutnya sudut pandang dalam memamahi sesuatu sebagai puncak pada proses berfikir manusia. Dan hal itu di dapatkan melalui pertimbangan yang di ambil dari pemikiran yang aktif itu sendiri. (al-‘aqlal-fa‘al). Kelompok ini telah di akhiri oleh para tokoh filsuf muslim, Mulla Sadra merupakan seorang pemikir muslim dimana telah memecahkan masalah klasik yang terdapat pada filsafat islam. Dan beliau juga mempertemukan kedua filsafat terkemuka di antaranya filsafat islam dengan filsafat agama yang menggabungkan keduanya sebagai pemikiran yang indah dan mudah untuk di mengerti.Dengan menggagas teori-teori baru mengenai wujud, geraksubstansial, kesatuan aqil dan ma‘qul, serta beberapa teori lain yang membuatnya menjadi salah satu pemikir Muslim paling orijinal pada periodepasca Ibnu Rusyddan terpengaruh oleh pemikiran tasawuf, Mulla Sadra juga berkecimpung dalam debat pemikiran mengenai manusia sempurna Dalam pandangannya, manusia sempurna adalah adalah perpaduan kreatif antara pamahaman dari dua kelompok terakhir di atas, yakni sebagai sebuah maqam puncak dari penyucian diri manusia melalui riyadah (tempa batin) dan sekaligus sebagai hasil tertinggi dari proses pemurnian intelek manusia sehingga ia bisa mencapai tahap Intelek Aktif. Kedudukan manusia sempurna bisa dialami oleh manusia karena pada dasarnya secara eksistensial manusia merindukan sebuah kesempurnaan, dan halitu mungkin terjadi karena jiwa manusia memiliki potensi-potensi yang jika kesemuanya teraktualisasi maka itulah wujud manusia sempurna Sedangkan Nietzsche dengan kuat mengeksplorasi wacana tentang eksistensialisme. (kebebasan, kematian, ketakutan, kekhawatiran, penderitaan, manusia) mimpi, kondisi duniawi (jarak dan waktu/historis). Doktrin Nietzsche berasal dari pemahaman yang konkrit tentang manusia dan kehidupannya. Ajaran utama Nietzsche adalah kemauan kekuasaan yang dapat dicapai dalam gagasan manusia sempurna yang ideal atau Ubermensch. Dia menegaskan bahwa keberadaan manusia adalah kehendaknya (human willwant) yang melampaui perbandingan. Nietzsche merupakan sosok yang sangat di segani pada masanya pemikiran pemikiran yang begitu rasionalis dan sudut pandang pada manusia yang menjadikan luar biasa menjadikan nya sebagai tiga inti dasar dalam sebuah kehidupan  berani menajalani hidup, mencerdaskan akal , dan terhir mampu menjadikan kebanggaan bagi diri sendiri, bisa dan tidak bisanya kita, mampu dan tidk cerdasnya nya semua akan menjadi kebanggaan tersendiri untuk kita, dalam artikel lain Nietzsche menyuarakan dengan adanya keterpurukan seseorang melalui penderitaan manusia akan lebih kuat dan hebat terhadap apa yang ia jalankan, mengapa karena pemikiran seseorang akan mampu dan tumbuh berfikir karena adanya suatu konflik atau masalah dan akan mencari solusi terbaik dari dalam dirinya, disitulah muncul potensi dalam diri manusia yang perlu di kuatkan. Manusia memiliki kekuatan supranatural dari dalam dirinya untuk mencapai sesuatu yang membuat manusia tersebut menjadi manusia yang teratas dan menjadikan dirinya sempurna. Â
References
Mukhtar Solihin dan Rosihon Anwar, Hakikat Manusia Menggali Potensi Kesadaran Pendidikan Diri Dalam Psikologi Islam (Bandung: Pustaka Setia, 2005), hlm. 17
Rodiah Ahmad Syadali, menyelami hakekat insan kamil Muhammad Nafis Al-Banjari dan Abdush Shamad Al Falimban,(Jogjakarta, jurnal, 2015), hlm.9
Derry ahmad Rizal, konsep manusia sempurna menurut Friedrich William Nietzsche dan Ibnu Arabi,(jogjakarta , jurnal, 2020), hlm.70
Maria ulfa, manusia super, (Semarang, jurnal , November 2009),hlm 1.
Rusdin, insan kamil dalam perspektif Muhammad iqbal, (Palu, jurnal, 2016), hlm,253
Akilahmahmud, insane kamil perpektif Ibnu Arabi(Makassar, junal, 2014),hlm. 4
Ahmad Samsudin, konsep manusia sempurna dalam pandangan kao tze dan Al Ghozali, (yogyakarta, jurnal, 2017), hlm 3
Andi Nurbaethy, esensi manusia dalam pemikiran Jalaluddin Rumi,( Makasar, jurnal, 2019), hlm 11
Gunardi, kerangka konsep dan kerangka teori dalam penelitian ilmu hukum (jakarta, jurnal, 2005), hlm 87
Heru Juabdin sada, Manusia dalam perspektif agama islam,(lampung, jurnal, 2016), hlm 133
KBBI offline
Mustamin Al-Mandari, Menuju Kesempurnaan, Safinah, 2003, hlm. 1
Sayyed hossen Nasr, Op. Cit . hlm 28
A. SetyoWibowo, Gaya Filsafat Nietzsche (Yogyakarta: Galang Press, 2004), hlm. 36.
Drs. Surajiyo, Ilmu Filsafat Suatu Pengantar, Bumi Aksara, Jakarta, cet. II, 2007, hlm. 131
Drs.H. Burhanuddin Salam, Filsafat Manusia: Antropologi Metafisika, Bina Aksara, Jakarta, cet. II, 1998, hlm.15
Zainal Abidin, Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat, Rosdakarya, Bandung, 2000, hlm. 3
Maria Ulfa, Manusia Super, UIN wali songo Jogjakarta, jurnal filsafat, 2009, Hlm. 28
Drs.Burhanuddin Salam, Filsafat Manusia: Antropologi Metafisika, Bina Aksara, Jakarta, cet. II, 1998, hlm.21
Sayyed Hussen Nasr, Al Hikmah Al Muta’aliyah, Jakarta Selatan, 2017. Hlm . 19
Misnal Munir, pengaruh filsafat Nietzsche terhadap perkembangan filsafat barat kontemporer, Jurnal Filsafat Vol.21, Nomor 2, Agustus 2011. Hlm. 5-6
Sholihan, Al hikmah Al Muta’aliyah pemikiran metafisika eksistensialistik Mula Sadra, junal ulumuna studi keislaman, 20210. Hlm 20
Muhammad baqir, Al hikmah Al muta’aliyah Mulla sadra, Jakarta selatan, sadra press, 2017, hlm. 18
R. Poole, Moralitas dan Modernitas: di Bawah Bayang-bayang Nihilisme (Yogyakarta: Kanisius, 1993), 146-178
Pengantar Penerbit dalam Peter Levine, Nietzsche: Krisis Manusia Modern. Terj. Ahmad Sahida,Yogyakarta: Ircisod, 2002), hlm. 8
Mauro ponzi, Nietzsche Nihilsme, rome, 2017 hlm.61
Downloads
Published
Issue
Section
Citation Check
License
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work.